Friday, 23 October 2015

Classroom Management

Classroom management adalah Upaya guru dalam pengkondisian peserta didik dan seluruh komponen di kelas untuk menciptakan lingkungan yang kreatif dan kondusif demi mendukung keefektifan PBM agar hasil belajar tercapai. Manajemen pada umumnya meliputi: perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, dan penilaian. Ada beberapa pendekatan dalam mengelola kelas yang sering diterapkan, antara lain otoriter, intimidasi, permisif, resep makanan, modifikasi perilaku, iklim sosio-emosional, sistem proses kelompok.


Prinsip pengelolaan kelas yang dibangun yaitu menciptakan suasana hangat dan antusias, tantangan, bervariasi, keluwesan, penekanan pada hal-hal positif, penanaman disiplin diri. Untuk itu ketika pembelajaran seorang guru harus menunjukkan sikap tanggap, membagi perhatian ke semua titik, memusatkan perhatian, memberikan petunjuk yang jelas, menegur, dan member penguatan pada hal-hal yang dianggap penting.  Hal-hal lain yang harus diperhatikan seorang guru dalam manajemen kelas adalah mengenai setting kelas terutama posisi duduk siswa, atmosfer kelas, peraturan kelas, dan posisi guru itu sendiri. Sedangkan hal yang harus dihindari dalam pengelolaan kelas ialah campur tangan yang berlebihan, kelenyapan, ketidaktepatan mengawali kegiatan, ketidaktepatan mengakiri kegiatan, penyimpangan tujuan, bertele-tele, pengulangan penjelasan yang tidak perlu.

Tugas Perkembangan Remaja

Tugas perkembangan yaitu tugas yang harus dipenuhi oleh individu di setiap tahap perkembangan sesuai dengan tuntutan (harapan) lingkungan (kultur, gaya hidup). Menurut Pusat Kurikulum 2002 tugas perkembangan siswa SMA dapat digolongkan kedalam Sembilan tugas pokok, yaitu :
1.   Mencapai kematangan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Mencapai kematangan dalam hubungan dengan teman sebaya, serta kematangan dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
3.   Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat.
4.  Mengembangkan penguasan ilmu, teknologi dan seni sesuai dengan program kurikulum dan persiapan karir atau melanjutkan pendidikan tinggi, serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
5.   Mencapai kematangan dalam pilihan karir.
6. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi.
7. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
8.   Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual, serta apresiasi seni.
9.   Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.


Dalam proses pencapaiannya terdapat faktor – faktor yang mempengaruhi sikap remaja terhadap pendidikan antara lain : sikap teman sebaya, sikap orang tua memandang pendidikan, nilai – nilai keberhasilan atau kegagalan akademis, relevansi dari berbagai mata pelajaran, sikap terhadap guru/pegawai, keberhasilan dalam ekstrakurikuler, dan derajat dukungan social antar teman sekelas. Untuk mengoptimalkan tugas pencapaian tersebut syarat yang harus dipenuhi adalah Keluarga yang aktif dan kooperatif, ingkungan sosial yang mendukung, tidak adanya kontradiksi nilai-nilai / gaya hidup antar generasi (Uhlendorff, 2004). 

Penellitian Tindakan Kelas

PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Manfaat lainnya yaitu menumbuhkan budaya meneliti guru, inovasi pembelajaran,  pengembangan kurikulum dan memecahkan masalah. Dalam PTK obyek  merupakan sesuatu yang aktif, dapat dikenali aktifitasnya, bukan obyek yang sedang  diam dan tanpa gerak. Untuk membuat PTK seorang guru harus memahami dulu teori dan prosedur PTK, kemudian baru bias membuat desain PTK, dan dilanjutkan menyusun laporan PTK. Adapun prinsip – prinsip yang terdapat di PTK antara lain Kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja, Kegiatan nyata dalam situasi rutin pembelajaran, SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) sebagai dasar berpijak, upaya empiris dan sistemik (kaidah ilmiah), SMART (Spesifik, Managable, Acceptable, Realistic, Time-bound). Prinsip – prinsip tersebut harus ada di dalam PTK baik itu PTK inkuiri – reflektif, kolaboratif, ataupun reflektif. Setelah mengetahui teori PTK, prosedur PTK yang dipakai yaitu 
  • Ide awal, ada masalah dan usaha perbaikan dalam kelas
  •  Pra-survei untuk mengetahui detail kondisi kelas 
  • Diagnosis dari peneliti luar tentang strategi, media atau materi pembelajaran
  • Perencanaan dari siklus per siklus (mirip RPP)
  • Implementasi tindakan
  • Pengamatan dari guru/kolaborator tentang kinerja guru, situasi kelas, sikap siswa dsb
  • Refleksi atau upaya evaluasi dari semua pihak untuk dijadikan perbaikan tindakan
  • Penyusunan laporan sesudah penelitian di lapangan berakhir
  • Kepada siapa hasil PTK dilaporkan? Guru peneliti, teman sejawat, pengamat dan pakar pendidikan, atau masyarakat.


Cara membuat laporan PTK dimulai dari pembuatan judul, latar belakang masalah, rumusan masalah, cara pemecahan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teoritik dan hipotesa tindakan, rencana penelitian, jadwal penelitian, rencana anggaran, dan lampiran.


Building Learning Power

Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh strategi pembelajarn yang digunakan oleh guru. Pemilihan strategi pembelajaran pada dasarnya berakar pada cara pandang tentang anak dan cara pandang tentang pembelajaran. Cara pandang tentang anak, apakah anak dianggap sebagai organisme yang aktif atau pasif. Selanjutnya cara pandang tentang anak tersebut berdampak pada pandangan tentang proses pembelajaran. Sekolah adalah tempat untuk menyiapkan masa depan. Sekolah yang baik adalah sekolah menampung minat dan kebutuhan siswa. Setiap manusia lahir dalam keadaan Fitrah (Suci) artinya oleh Allah manusia telah diciptakan dalam keadaan sempurna dengan segala potensi baiknya yang siap untuk dikembangkan. Berdasarkan pandangan tentang potensi dasar manusia tersebut dapat dikatakan bahwa tugas pendidikan yang sebenarnya adalah mengembangkan potensi anak. Salah satu peneliti di bidang pengembangan potensi dasar manusia (Prof. Guy Claxton, dari Bristol University) berkesimpulan bahwa dalam diri setiap anak ada potensi besar yang siap untuk dikembangkan yang diberi nama learning power dengan memberikan pengalaman belajar berkualitas, sehingga kegiatan pembelajarannya disebut dengan membangun kapasitas belajar (building learning power). BLP mempunyai 4 aspek bagi siswa yang ' baik' dalam belajar. Empat kapasitas belajar tersebut  adalah: Resilience (ketangguhan), Resourcefulness (kecerdasan),  Reflectiveness (kecerdikan), dan  Reciprocity (kemandirian & kerjasama). Peningkatan kualitas pendidikan berbasis BLP ini bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa secara utuh (kognitif, afektif, Psikomotor) dan tanpa batas, bahkan dapat melampaui potensi rata-rata yang diperkirakan selama ini, mengubah paradigma pembelajaran, mengejar ketertinggalan Indonesia di bidang kualitas manusia terutama jika dibandingkan dengan negara-negara OECD, sehingga secara bertahap dapat meningkatkan capaian skor PISA dan HDI. Dalam BLP kegiatan pengajaran yang dilakukan guru hampir sama dengan yang ada dalam kurikulum 2013 yaitu meliputi proses mengamati, mengomentari, mengorkestra, dan modeling serta disertai dengan evaluasi diri dan pelaporan.
§  Menjelaskan, menyampaikan kepada para siswa secara langsung dan dengan tegas tentang kapasitas belajar. Di dalam menjelaskan ada empat kegiatan yang dilakukan: memberitahu, mengingatkan,mendiskusikan, dan pelatihan.
§  Mengomentari, menyampaikan pesan tentang kapasitas belajar melalui pembicaraan informal dan evaluasi informal dan formal. Proses mengomentari meliputi menyentuh, menjawab, evaluasi, dan menelusuri jejak.
§  Mengorkestra, pemilihan aktivitas dan mengatur lingkungan. Di dalam mengorkestra ada empat hal yang dapat dilakukan: (1)pemilihan, (2)penyusunan, (3)menentukan target,  dan (4)pengaturan,

§  Modeling, menunjukkan apa maknanya menjadi seorang pelajar yang efektif. Di dalam modeling ada empat hal yang dapat dilakukan: (1)bereaksi, 2)pelajaran dengan tegas, (3)demonstrasi, dan (4)berbagi

LEARNING STYLE

Pembelajaran berbasis learning style adalah suatu strategi pembelajaran yang dikembangkan  berdasarkan minat dan gaya belajar siswa, bersifat menantang, dan melibatkan siswa secara individu, berpasangan, maupun dalam kelompok. Tujuan pembelajaran berbasis learning style yaitu 
  1. meningkatkan motivasi belajar siswa dengan cara mengembangkan topic pembelajaran berdasarkan minat dan gaya belajar siswa
  2.      Untuk melejitkan kompetensi siswa dalam suatu topik pembelajaran karena siswa  dihadapkan pada sesuatu yang bersifat menantang sekaligus menyenangkan yang telah menjadi pilihan siswa.
  3.  Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja secara mandiri, berpasangan, dan bekerja dalam kelompok.
  4. Untuk memberikan pengalaman belajar secara nyata kepada siswa

Dalam prosesnya pembelajaran learning style dilakukan dengan suasana yang menyenangkan sehingga hasil belajar siswa menjadi optimal, selain itu dalam pembelajaran learning style harus memperhatikan beberapa prinsip dasar, antara lain :
  1.            Perlunya keseimbangan antara kegiatan individu, berpasangan, & kelompok
  2.     Pelaksanaan struktur pembelajaran secara proporsional yang meliputi : pengenalan tujuan pembelajaran, starter, kegiatan utama (diskusi dan presentasi), plenary, dan kegiatan pendidikan.
  3.     Dalam setiap kegiatan pembelajaran selalu melibatkan gaya belajar visual, auditori, dan kinaestetik.
  4.    Dalam kegiatan kelompok seringkali kegiatan masing-maisng kelompok berbeda sesuai kemampuan gaya belajar siswa dalam kelas yang heterogin.
  5.           Siswa yang lebih mampu menjadi tutor sebaya bagi temannya yang memerlukan bantuan.
  6.   Untuk menunjang terlaksananya pembelajaran berbasis gaya belajar siswa diperlukan berbagai sumber belajar.
  7.      Diperlukan adanya teaching assistance sesuai kebutuhan.
  8.           Guru berperan sebagai motivator dan fasilitator.

Dari 8 hal diatas dapat dilihat bahwa peran guru sangat besar dalam pencapaian hasil belajar siswa untuk itu tugas guru dan keterlibatan siswa harus seimbang. Adapun tahap – tahap pelaksanaan pembelajaran learning style dapat digolongkan menjadi 3, yaitu
1.      Tahap Persiapan :
a.    Guru mengajak siswa membahas KD/Topik yang yang akan dipelajari 3-7 hari mendatang (diawali dengan ilustrasi singkat tentang pentingnya topik tersebut dipelajari)
b.    Guru bertanya kepada siswa apakah siswa berminat untuk membahas topik tersebut, (usahakan sampai siswa benar-benar berminat)
c.       Ajukan satu pertanyaan terbaik (menantang) kepada siswa berkaitan dengan topik yang akan dipelajari tersebut.
d.      Siswa secara individual diharapkan memberi respon atas pertanyaan yang diajukan oleh guru dengan mengajukan satu pertanyaan terbaik pula.
e.    Guru mencatat pertanyaan-pertanyaan dari siswa, kemudian melalui proses diskusi memilih sejumlah pertanyaan yang akan dijawab minggu depan.
f.        Bentuklah kelompok untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dipilih tersebut.
g.    Masing-masing kelompok diminta untuk memilih GAYA yang paling disukai untuk menjawab tantangan tersebut (pilihan gaya disediakan oleh guru)
h.  Diskusikan sumber belajar yang akan diakses untuk menjawab pertanyaan tersebut, dan pastikan bahwa sumber belajar dapat terpenuhi
i.       Kegiatan diawali dari kegiatan individu dilanjutkan dengan kegiatan kelompok

2.      Tahap Pelaksanaan
a. Pada hari dan jam yang telah ditentukan siswa melakukan diskusi kelompok (jika karya individu belum digabung dalam kelompok), dilanjutkan dengan presentasi dengan pembagian waktu yang diatur secara ketat.
b. Setelah semua kelompok melakukan presentasi diadakan diskusi/klarifikasi dari anggota kelompok lain.
c.  Siswa yang kurang menguasai materi pelajaran dijelaskan oleh siswa lain yang lebih menguasai
d.Guru membantu memberikan penjelasan terhadap siswa yang masih belum jelas ketika dijelaskan oleh siswa lain
e.  Adakan refleksi (menggunakan jurnal learning log)
f.    Penilaian dilakukan secara autentik pada saat proses belajar berlangsung

3.      Tahap Akhir
a.      Guru mengadakan kegiatan plenary (simpulan, & rancangan pembelajaran yang akan datang) dan mengisi komponen plenary pada RPP guru
b.      Guru menulis simpulan dan saran pada RPP

Guru menandatangani RPP yang telah berjalan dan melaporkannya kepada kepala sekolah                         

Evaluasi dalam Pembelajaran


A.      Latar Belakang

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui hasil yang telah dicapai oleh pendidik dalam proses pembelajaran adalah melalui evaluasi. Evaluasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. Dalam setiap pembelajaran, pendidik harus berusaha mengetahui hasil dari proses pembelajaran yang ia lakukan. Pentingnya diketahui hasil ini karena dapat menjadi salah satu patokan bagi pendidik untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran yang dia lakukan dapat mengembangkan potensi peserta didik.  Evaluasi pendidikan danpengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu.

B.    Pengertian Evaluasi Pembelajaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, evaluasi berarti penilaian (KBBI, 1996:272). Sedangkan Evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004: 1) adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Nurgiyantoro (1988:5) menyebutkan bahwa evaluasi adalah proses untuk mengukur kadar pencapaian tujuan. Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa evaluasi yang bersinonim dengan penilaian tidak sama konsepnya dengan pengukuran dan tes meskipun ketiga konsep ini sering didapatkan ketika masalah evaluasi pendidikan dibicarakan. Dikatakannya bahwa penilaian berkaitan dengan aspek kuantitatif dan kualitatif, pengukuran berkaitan dengan aspek kuantitatif, sedangkan tes hanya merupakan salah satu instrumen penilaian. Meskipun berbeda, ketiga konsep ini merupakan satu kesatuan dan saling memerlukan. Pengukuran adalah proses penentuan kuantitas suatu objek dengan membandingkan antara alat ukur dengan objek yang diukur. Penilaian adalah proses penentuan kualitas suatu objek dengan membandinkan antara hasil-hasil ukur dengan standart penialaian tertentu.  Tes adalah alat pengumpulan data yang dirancang khusus. Yang membedakannya dengan evaluasi adalah bahwa evaluasi mencakup aspek kualitatif dan aspek kuanitatif. Dengan demikian, evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.
Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. sehingga dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu informasi yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal (Gagne dan Briggs, 1979:3).
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa  evaluasi pembelajaran adalah adalah proses mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasi informasi secara sistematik untuk menetapkan sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

C.      Fungsi dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran
1.       Fungsi evaluasi
Fungsi evaluasi pembelajaran sangat diperlukan dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :
1. Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi) yang telah dicapai oleh peserta didiknya,
2. Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik,
3. Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi  peserta didik yang memang memerlukannya,
4. Memberikan petunjuk tentang sejauh manakah program pengajaran yang telah ditentukan telah dapat dicapai (Sudijono, 2006:12).
5. Menilai hasil yang dicapai para pelajar.
6. Menilai kurikulum.
7. Memberi kepercayaan kepada sekolah.
8. Memonitor dana yang telah diberikan.
9. Memperbaiki materi dan program pendidikan.
2.  Tujuan evaluasi
Tujuan umum evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pembelajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu. Serta menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, taraf perkembangan, atau taraf pencapaian kegiatan belajar siswa.
Tujuan khusus evaluasi pembelajaran adalah :
1.     Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan
2.        Untuk mencari dan menemukan faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik  dalam mengikuti program pendidikan sehingga dapat ditemukan cara-cara untuk memperbaikinya.
3.    Mengetahui kemajuan belajar siswa
4.    Mengetahui potensi yang dimiliki siswa
5.    Mengetahui hasil belajar siswa
6.    Mengadakan seleksi
7.     Mengetahui kelemahan atau kesulitan belajar siswa
8.     Memberikan bantuan dalam kegiatan belajar siswa
9.     Memberikan motivasi belajar
10.   Mengetahui efektifitas mengajar guru
11.   Mengetahui efisiensi mengajar guru
12.   Memberikan balikan pada guru
13.   Memberikan bukti untuk laporan kepada orang tua atau masyarakat
14.   Memberikan data untuk penelitian dan pengembangan pembelajaran

D.   Klasifikasi Hasil Belajar
Menurut Bloom, hasil belajar peserta didik dapat dikelompokkan menjadi 3 aspek :
1.       Kognitif
2.       Afektif
3.       Psikomotorik
Sementara itu hasil belajar pada aspek kognitif, dapat diklasifikasikan dalam 6 tingkatan sesuai kompleksitas/tingkatan berpikir, yaitu :
  1. Pengetahuan (knowledge) yang mencakup kemampuan mengingat kembali istilah, fakte-fakta, metode, prosedur, proses, prinsip-prinsip, pola, struktur, atau susunan
  2. Pemahaman (comprehension) yang menyangkut kemampuan seseorang dalam menafsirkan suatu informasi, menentukan implikasi, akibat, maupun pengaruh-pengaruh.
  3. Aplikasi (application) merupakan kemampuan menenrapkan absraksi-abstraksi, hukum, dan prosedur dalam situasi yang khusus.
  4. Analisis (analysis) merupakan kemampuan menguraikan sebuah informasi
  5. Sintesis (synthesis) adalah kemampuan menyususn/memadukan unsure-unsur menjadi suatu pola baru.
  6. Evaluasi (evaluation) adalah kemampuan untuk menilai ketepatan teori, prinsip, metode, dan prosedur untuk menyelesaikan masalaha tertentu.

E.       Prinsip-Prinsip Evaluasi dalam Pembelajaran
Penilaian peserta didik harus berdasarkan pada prinsip-prinsip penilaian sebagai berikut :
  1. Mendidik yaitu hasil belajar harus mampu memberikan umpan balik dan memotivasi siswa untuk lebih giat belajar.
  2. Terbuka/transparan yaitu prosedur penilaian, criteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan diketahui oleh pihak terkait.
  3. Menyeluruh yaitu penilaian meliputi berbagai aspek kompetensi.
  4. Terpadu artinya penilaian tidak hanya dilakukan setelah peserta didik menyelesaikan pokok bahasan melainkan saat mereka melakukan proses pembelajaran.
  5. Objektif yaitu penilaian berdasarkan criteria tertentu tidak unsure subjektif penilai.
  6. Sistematis yaitu penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar peserta didik.
  7. Berkesinambungan yaitu penilaian dilakukan secara terus-menerus sepanjang berlangsungnya pembelajaran.
  8. Adil yaitu tidak ada peserta didik yang diuntungkan atau dirugikan.
  9. Menggunakan acuan kriteria yaitu menggunakan kriteria tertentu dalam meluluskan peserta didik (KKM)

F.     Teknik Evaluasi
Instrumen (alat) adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efesien. Alat evaluasi tersebut dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan hasil seperti keadaan yang dievaluasi. Dalam menggunakan alat tersebut evaluator menggunkan cara atau teknik yaitu dengan teknik evaluasi. Teknik evaluasi terebut terbagi kedalam dua macam, yaitu teknik nontes dan teknik tes.
1.       Teknik non tes
a)      Skala Bertingkat (rating scale)
Skala mengambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap sesuatu hasil pertimbangan. Dengan maksud agar pencatatannya dapat objektif maka penilaian terhadap penampilan seseorang disajikan dalam bentuk skala.
b)      Kuesioner (questionair)
Kuesioner (questionair) dikenal dengan sebagai angket. Kuesioner ialah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang aka diukur (responden). Dengan kuesioner ini orang dapat diketahui tentang keadan atau data diri, pengalaman, pengetahuan sikap atau pendapatnya.
c)       Daftar vocok (check list)
Daftar cocok (check list ialah deretan pertanyaan (yang biasanya singkat), responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok ( ) ditempat yang sudah disediakan.

d)      Wawancara
Wawancara(interview) ialah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya-jawab sepihak.
e)      Pengamatan (observastion)
pengamatan ialah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.
f)       Portofolio
g)      Penugasan
h)      Jurnal
i)        Penilaian diri
j)        Penilaian teman sejawat

2.       Teknik tes
        Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan yang diinginkan seseorang dengan cara yang tepat. Tes ini ada 3 macam, yaitu :
a. Tes diagnostic, adalah tes yang digunakan untuk mengertahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.
Tes diagnostic ini ada 4 tingkat, antara lain :
1.Tes diagnostic ke-1 dilakukan terhadap calon siswa sebagai input, untuk mengetahui apakah calon tersebut sudah menguasai pengetahuan yang merupakan dasar untuk menerima pengetahuan di sekolah lanjutan.
2. Tes diagnostic ke-2, dilakukan terhadap calon siswa yang sudah akan mulai mengikuti program. Tes diagnostic ini berfungsi sebagai tes penempatan (placement test).
3. Tes diaonostik ke-3, dilakukan terhadap siswa yang sedang belajar, karena tidak semua siswa dapat menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan lancar.
4.  Tes diagnostic ke-4, diadakan pada waktu siswa akan mengakhiri pelajaran.
b. Tes formatif, tes ini diberikan pada akhir setiap program. Tes ini merupakan post-test atau tes akhir proses. Digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memahami materi tertentu.
c. Tes subsumtif dan sumatif, pelaksanaan kegiatan tes subsumatif ini dilakukan pada perempat semester atau caturwulan dan pada pertengahan semester(caturwulan) yang lazim kita ssebagai mindsemester. Evaluasi sumatif ialah penentuan kenaikan kelas bagi setiap siswa.


K.      Daftar Pustaka
Wening, Sri.2012.Evaluasi Pembelajaran.Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

Mahasiswa Program Studi Matematika.2011.Evaluasi dalam Pembelajaran.Mataram:FKIP Universitas Mataram